News
cd demo di fajar tahun 2010
8 Jan 2010 12:57pmADA tiga surat yang kami tenerima di fajar tahun 2010 ini. Ketiga surat itu berasal dari 3 daerah yang berbeda, dari Jogja kiriman Rofiqi Hasan, dari Magelang (Nur Imam), dan dari Padang Sumatra Barat (Hawa Bhend). Ketiganya menyertakan CD demo, meminta Gigi mendengarnya, memberi masukan atau setidaknya berkomentar terhadap karya mereka. Mari kita mulai dengan yang pertama.
Rofiki mengirim CD demo lagu-lagu religi, dan berharap Gigi berkenan menggunakannya untuk album religi berikutnya. Rofiqi antara lain menulis begini, “Jadi intinya begini lho mas Gigi (Mas Armand dkk), Di dalam surat ini saya menyertakan CD yang berisi sampel musik dan lagu-lagu ciptaan kami. Saya menyadari mungkin lagu ini belum bagus untuk kami mainkan, namun saya percaya setelah digarap dan dibawakan oleh Mas Armand dkk, lagu ini dapat menghibur, menginspirasi dan mengairahkan kehidupan.”
Bagi Gigi ini permintaan yang unik dan kami sangat menghargainya. Ini surat pertama yang isinya menawarkan lagu religi untuk kami pakai. “Lagu Rofiqi bagus tapi tidak bisa kami pakai karena –setidaknya sampai saat ini- kami mempunyai patokan penggunaan lagu-lagu orang,” kata Armand.
Gigi hanya menggunakan lagu ciptaan orang lain yang sudah dikenal, itupun dengan aransemen khas Gigi, sehingga warna Gigi sangat kental di situ. Rofiki mungkin pernah mendengar lagu Bengawan Solo (Gesang), Lenny (Chrisye), dan Santai (Rhoma Irama), atau lagu religi Perdamaian (Abu Ali Haidar). “Tapi sekali lagi itu kriteria yang berlaku saat ini. Mungkin kelak berubah, siapa tahu. Jadi Rofiqi terus saja berkarya. Lagi pula sekarang makin banyak band yang membuat album religi yang bisa juga kamu tawari,” kata Armand.
Modal dasar
Nur Imam dari Magelang atas nama band nya menulis, “Nama band kami Vegasus (bukan Pegasus, kuda terbang?).. Kami bukanlah orang yang pandai terhadap musik.. Tapi musik ada dalam setiap detik yang kami lalui.. Kami berharap musikalitas amatiran kami bisa didengar & dinikmati oleh khalayak luas..”
Sepanjang suratnya Imam menceritakan perjuangan yang dilakukan untuk membesarkan Vegasus. “Perjuangan itu bagus dan itu juga yang dilakukan oleh band-band yang sekarang punya nama besar. Banyak orang melihat band top hanya di ujung perjalanannya, tidak pada keseluruhan prosesnya, bagaimana jatuh-bagunnya,” kata Thomas.
Tapi lagu-lagu Vegasus sejujurnya cukup bagus, tinggal cari label yang bersedia dan produser yang akan memolesnya. Dan disini justru terberatnya. Ibarat buka warung, masakan enak hanyalah modal dasar yang harus diikuti oleh serangkaian pekerjaan yang lain agar didatangi pengunjung. “Jadi tetaplah berkarya, jangan pernah menyerah pada segala keterbatasan. Kami dulu juga susah tapi kami maju ters karena tidak punya pilihan lain,” kata Thomas.
Dari Padang kami menerima CD demo Hawa Bhend (apakah bhend=band, sebab di dalam biografinya ditulis band?). Band yang mengaku beraliran PopMood ini adalah band yang sudah jadi, yang dibentuk pada 1 Agustus 2009. Band ini digawangi oleh Rizki Rahman Syarif (vokal), Jeffalino Ragusta (bas), dan Claudio Armando Syofnevil (gitar).
Oh iya.. mereka mengaku nama Hawa itu kependekan dari haus-wanita. “Nama ini kami ambil karena pada awal pembentukannya para personil (semuanya pria sejati) sedang jomblo. Selain itu kami menganggap nama ini unik dan gampang diingat,” begitu yang tertulis dalam biografi Hawa Bhend
Band yang semula memilik formasi 4 orang itu kini sedang dalam proses penggarapan album pertama yang CD demonya dikirimkan ke kami. “Hits single pertama yang kami lemparkan ke pasar, alhamdulillah mendapat respon yang sangat baik di kota Padang dan telah ‘dibajak’ sampai ke Pakanbaru. Ke depan kami ingin dapat membuat album yang lebih baik. Oleh karena itu, kami sangat ingin mendapatkan label nasional yang dapat membantu kami merealisasikan impian kami menjadi band yang diakui secara nasional, bukan sekadar numpang lewat.”
Kami dari Gigi senang dengan capaian ini, mudah-mudahan Hawa Bhend cepat mendapat respon dari major label di Jakarta. “Tapi untuk merealisasikan keinginan itu kalian mesti punya tekad yang kuat dan.. bersedia pindah ke Jakarta. Pertanyaannya, Mau-nggak, kalian meninggalkan comfort zone Padang?” kata Hendy.
Kurang Tepat
Kami dari Gigi manajemen/POS Entertainment sering menerima surat seperti ini dari berbagai daerah di Indonesia, dan kami berterima kasih karenannya. Tapi –dengan permohonan maaf- kami tidak bisa merespon setiap surat dan CD demo tersebut, setidaknya untuk dua alasan. Yang pertama karena kesibukan di kantor dan manggung yang sepertinya tak pernah ada putusnya, tapi percayalah kami membaca setiap surat yang datang dan mendengarkan CD nya.
Mungkin terkesan klise, tapi memang begitulah kenyataaanya. Ini harus kami sampaikan agar teman-teman yakin bahwa surat itu sampai dan tidak dibuang ke tempat sampah, walaupun teman-teman tidak menerima jawaban langsung yang berupa surat juga.
Yang kedua, harapan agar POS menindaklanjuti kiprah kalian (sebagai artis) dan karya kalian (dengan menjadi produser album) sepertinya kurang tepat. Maksudnya begini, POS memang perusahaan yang bergerak dalam bidang entertainment khususnya musik. Di POS ada devisi artis manajemen dan label -selain devisi yang lain- tapi kami tidak merekrut artis baru dan hanya memproduksi album untuk artis kami sendiri. Setidaknya sampai saat ini itulah kebijakan kami.
Jadi untuk demo rasanya akan lebih tepat jika teman-teman mengirimkannya ke label-lebel yang memang menjaring artis-artis baru, seperti Nagaswara, Keci, Universal, Trinity, dan seterusnya itu. Bagi POS upaya maksimal yang bisa kami lakukan adalah membawa CD demo yang kami terima ke teman-teman kami di label-label itu juga. (son/POSe)
« kehalaman sebelumnya | kembali keatas
Komentar

