News
kisah dibalik konser 11 januari 2008 (1)
15 Jan 2010 6:30pmGigi Diancam Diculik
INI bukan lirik lagu atau judul sebuah film yang sound-trek nya sedang dikerjakan Gigi. Ini kisah nyata yang terjadi dibalik konser tunggal 11 Januari 2008 di Stadion Mandala Krida Jogja. Saya tertarik menulis cerita ini setelah melihat foto Gigikita di depan spanduk bertuliskan “Boikot Konser Gigi” (lihat foto) dengan huruf besar diikuti dibawahnya dengan huruf yang lebih kecil “Brajamusti Jamaika” [jauh amat ya?]. Begini ceritanya.
Tanpa bermaksud mendramatisir apalagi mengarang-ngarang cerita, kami dari POS Entertainment memang menerima ancaman itu. Kami tidak tahu siapa yang menlontarkan ancaman itu tapi yang jelas pada 10 Januari 2008 atau H -1 dari jadwal konser, isu ancaman penculikan berhembus kencang.
Kami langsung melakukan koordinasi dengan melibatkan security dan para pekerja produksi. Pilihannya waktu itu ada dua, mengabaikan isu ini dan menganggapnya sebagai kerjaan orang iseng, atau.. ini benar-benar ancaman serius! Tapi apapun persepsi kita tentang pesan itu, kami sepakat untuk mengisolasi informasi ini karena tidak ingin isu ini meluas dan menjadi bola liar yang akhirnya menggagalkan konser.
Koordinator petugas keamanan yang kami datangkan dari Jakarta menyarankan agar Gigi dievakuasi secara diam-diam dari Hotel Santika, tempat mereka menginap selama ini, ke hotel lain. Sementara kami dan awak produksi tetap di Santika yang dari awal dipersiapkan sebagai base camp sekaligus posko kegiatan. Pemindahan ini dianggap pilihan terbaik karena kami juga mendengar isu akan ada demo di depan Hotel pada hari H yang bisa menganggu akses jalan Gigi ke venue.
Ketika saran kami sampaikan ke pamain, Thomas, Hendy, Armand, dan Budjana langsung menolak ide ini. Mereka bersikeras untuk tetap di Santika karena seluruh keluarga mereka juga menginap disana. Maka rencana pindah hotel tidak jadi dilakukan, sebagai gantinya kami melakukan penjagaan yang lebih ketat dengan melibatkan pihak kepolisian.
Dan sebagaimana kita ketahui bersama, penculikan itu tidak benar-benar terjadi dan konser 11 Januari 2008 berjalan dengan aman. Lebih dari 50 ribu orang memadati Stadion Mandala Krida dengan tertib dari awal hingga akhir acara. Bahkan konser ini dinobatkan sebagai konser terbaik tahun 2008 oleh majalah Rolling Stone Indonesia.
Sekarang kami bisa tertawa-tawa jika mengingat peristiwa itu. Tapi saat kejadian, kami benar-benar panik dan dibuat sibuk melakukan antisipasi, sambil tetap berusaha tampil tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Memanaskan Jogja
Sebenarnya jauh hari sebelum waktu konser, kami sudah berkoordinasi dengan pihak keamanan dan pengelola stadion Mandala Krida. Yang mengurus waktu itu adalah Ipe dari Thunder, mitra POS Entertainment yang markasnya di Jogja. Semuanya pihak yang berkementingan terhadap terselenggaranya konser ini memberi komitmen positif, termasuk surat izin untuk menggelar konser di dalam stadion.
Seminggu sebelum konser, awak POS mulai berdatangan ke Jogja untuk mencari hotel dan mengurus izin menggelar work shop di sekolah dan kampus-kampus. Untuk hotel kami bekerjasama dengan Santika, sementara untuk work shop Gigi kami mendapat lampu hijau dari SMAN 3, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), STIE YKPN, dan Universitas Atmajaya Jogja. Untuk sekolah menengah atas kami memang tidak bisa mendapat banyak, karena saat itu bertepatan dengan libur sekolah.
Hal lain yang kami anggak penting adalah masalah promosi. Untuk itu kami mendatangi media cetak (Kedaulatan Rakyat, Bernas), radio (antara lain, Geronimo dan Suara Gama), dan TV lokal (Jogja TV dan A TV Solo). Selain menggunakan media masa (bukan untuk pasang iklan lho, tapi untuk ditulis sebagai berita dan ngobrol dengan pendengar radio dan pemirsa TV), kami juga mecetak 10 ribu leafletuntuk disebarkan ketempat-tempat keramaian dan sekolah-sekolah.
Oh iya.. ada satu kegiatan lagi yang sangat besar pengaruhnya terhadap sukses konser ini. Kami membangun pusat penjualan merchandise dan tiket konser di Jalan Seturan. Lokasi ini sengaja kami pilih karena di daerah itu banyak sekali kampus. Kami membangun tenda berukuran 4 X 12 meter di area parkir restoran Ayam Kampus.
Konsep dari stan ini bukan sekadar menjaul beragam merchandise dan tiket, tapi juga untuk “memanaskan” suasana Jogja. Kami sengaja membuat “keramaian,” dengan memutar lagu-lagu Gigi pada siang hari dan video klip pada malam hari. Hasilnya sungguh luar biasa, orang berdatangan di tempat itu dari pagi hingga malam.
Selama tiga hari buka di seturan di tambah penjualan di stadion pada hari H, rekor penjualan merchandise sepanjang sejarah Gigi terpecahkan. Termasuk penjualan selama tur ngabuburit yang rata-rata lebih dari 10 kota.
Demo Brajamusti
Persoalan mulai muncul setelah Brajamusti, suporter PSIM, mulai mempermasalahkan konser yang kami adakan di dalam stadion. Menurut mereka stadion Mandala Krida Bukan untuk pertunjukan musik tapi sepak bola. Masuknya banyak orang di lapangan akan membuat rumput rusak. Konser musik bolah tapi di halaman parkir bukan di lapangan bermain.
Kami tentu saja tidak dalam posisi untuk menjawab pertanyaan ini karena kami telah mendapat izin dari pengelola stadion dengan segala syarat dan ketentuannya. Syarat-syarat itu adalah menutup lapangan rumput sampai di depan FOH, Memberi alas pada kaki panggung dan tenda, Memasang kembali tiang gawang yang dicopot untuk kebutuhan panggung. Untuk yang terakhir ini kami tidak bolah melakukannya sendiri tetapi ada orang khusus yang ditunjuk, karena khawatir kami tidak bisa mendudukan kembali tiang gawang pada posisi yang tepat. Masuk akal juga.
Tetap dengan rencana semula, kami mulai mendirikan stage dan regging di lapangan. Saat panggung sudah berdiri, kami didatangi sekelompok massa Brajamusti. Mereka memasuki lapangan dan berdiri bergerombol di dekat panggung sambil berorasi menolak konser Gigi. Karena khawatir akan terjadi gesekan yang akan membuat suasana makin panas kami menarik semua pekerja produksi dan mengentikan pekerjaan pembangunan regging.
Setelah cukup lama berorasi, massa Brajamusti meninggalkan lapangan sambil menebar ancaman akan kembali lagi besok dengan massa yang lebih besar. Belakangan kami tahu tenyata iring-iringan massa Brajamusti juga mendemo kantor Thunder dengan menggunakan puluhan sepeda motor. Demo ini benar-benar “mamanaskan” suasana Jogja, apalagi media massa mulai menulis demo penolakan konser Gigi ini.
Berbagai upaya kami lakukan untuk meredam suasana termasuk mendatangi Koran Kedaulatan Rakyat, melakukan deal-deal dengan pengurus Brajamusti, dan sowan ke Sultan Hamengku Buwono X di kraton. (son/POSe-Bersambung)
« kehalaman sebelumnya | kembali keatas
Komentar

