header

Newsnews

immortal gesang

22 May 2010 2:52pm

TANGGAL 9 Agustus 2008 pukul 11.00 WIB Gigi mendarat di Bandara Adi Soemarmo Solo. Tidak ada acara manggung di Solo hari itu, tapi perasaan kami begitu gembira dan bersemangat. Kami akan berkunjung ke rumah Gesang, legenda hidup yang sangat kami kagumi. Kami mendengar berita bahwa Gesang baru selesai dirawat di sebuah rumah sakit karena komplikasi berbagai penyakit tua. Jadi rasanya sungguh tepat jika kami mampir untuk menengoknya.

Setelah makan siang yang singkat, kami bergegas ke Jl. Bedoyo No.5 Kemlayan, Solo. Yono, kemenakan Gesang yang selama ini bertindak layaknya manajer dan bisa mengatur kedatangan tamu-tamu Gesang telah kami kontak beberapa hari sebelumnya dan menyatakan bahwa eyang (begitu Yono dan seluruh kemenakan serta cucu Gesang biasa memanggilnya) cukup sehat dan siap menerima Gigi.

Sekitar pukul 13.00 kami --Armand, Hendy, Budjana, Thomas bersama Dhani Pette, Luki, Onez, dan saya-— tiba di rumah Gesang. Di luar dugaan, di dalam dan di luar rumah telah berkumpul cukup banyak orang, selain kemanakan dan cucu-cucu, tetangga Gesang juga banyak yang ikut nimbrung.

Teh Botol dibagikan juga kartu nama bergambar Gesang. Di kartu nama itu tampak gambar Gesang menggenakan blangkon dan beskap. Di bagian tengah tertulis nama Gesang Martohartono, dan di bagian paling bawah tertera alamat lengkap dan nomor telepon, Jl. Bedoyo No.5 RT-01/RW-05 Kemlayan – Solo 57151. Tlp. 0271 664575. Agaknya keluarga telah mempraktikan kiat public relation dengan baik.


Yang mengherankan sudah ada wartawan di sana, padahal kami tidak mengabarkan rencana kedatangan kami kepada siapapun. Kedatangan Gigi sudah bocor ke media.

Siang itu Gesang tampak segar duduk di ruang tamu berbaju batik hijau muda lengan panjang bermotif daun warna coklat dipadu dengan celanan panjang krem dan peci hitam polos. Di ruang tamu sempit dengan dinding penuh pigura penghargaan dan kliping berita inilah Gesang menerima tamu-tamunya.

Setelah bersalaman, kami duduk dan berbincang-bincang. “Kami bilang kalau lagu Bengawan Solo telah beberapa kali kami bawakan saat manggung, termasuk saat manggung di Amerika Serikat dan Jepang,” kata Hendy. “Saat itu Gigi juga minta izin dan mohon doa restu membawakan kembali Bengawan Solo di acara pentas Soundrenaline yang akan diselenggarakan esok harinya di Jogja.”

Kepada kami Gesang menyatakan rasa syukurnya masih ada anak muda yang mau membawakan lagu Bengawan Solo. Dia juga berpesan agar musik keroncong, sebagai budaya asli Indonesia, terus dilestarikan.

Diiringi Gudjana
Sebelum mohon diri kami minta Gesang menyanyikan lagu bengawan Solo. Budjana dengan sigap mengambil gitar memang yang telah dipersiapkan sebelumnya dan Gesangpun mulai bersenandung. Walaupun nafasnya berat dan pendek-pendek Gesang bernanyi dengan penuh semangat.

Kunjungan hari itu diakhiri dengan penyerahan bantuan dari Gigi dan manajemen serta foto bersama. Gesang bersama kemanakan dan cucu-cucunya melepas Gigi dengan lambaian tangan. “Saya merasa sangat lega bisa bertemu Gesang,” kata Budjana.

Kunjungan ini sebenarnya sudah lama direncanakan. Budjana dan Dhani yang pertama kali melontarkan gagasan untuk berkunjung ke rumah Gesang. Bagi Gigi Gesang sungguh sangat berarti. Walau tidak pernah bertemu sebelumnya, kami merasa memiliki ikatan batin yang kuat. Melalui lagu Bengawan Solo, Gigi seperti terhubung oleh benang yang tak kasat mata dengan Gesang.

Lagu Bengawan Solo adalah satu di antara sedikit lagu orang yang mau Gigi bawakan, tentu saja dengan aransemen ala Gigi. “Kadang kami berpikir bakal seperti apa rekasi Gesang jika mendegar Bengawan Solo yang lembut berubah jadi begitu keras. Mungkin Gesang akan shock, ha..ha..,” kata Armand.

Waktu Gigi tur ke Amerika tahun 2005 Bengawan Solo termasuk yang dibawa keliling sejumlah kota.
Gigi merasa sangat beruntung bisa sampai pada tahap seperti ini, karena tidak semua musisi seberuntung Gigi, termasuk Gesang. Meski mendapat banyak penghargaan dari berbagai Negara, dan Bengawan Solo telah diterjemahkan dalam 15 bahasa, di negeri sendiri pemerintah kurang memberi perhatian.

Besarnya perhatian Jepang pada Gesang selain bisa dilihat dari royalti yang secara teratur mereka bayarkan, juga bisa dilihat dari keberadaan Taman Gesang. Taman yang dibangun Perhimpunan Dana Gesang Di Jepang ini letaknya di pinggir Bengawan Solo tepatnya di dalam kebun binatang Taman Jurug Solo.

Di dalam taman itu terdapat manumen berbentuk patung dada Gesang di atas dudukan marmer dengan cetakan partitur lagu Bengawan Solo menempel di dindingnya. Sayangnya kondisinya sangat memprihatinkan, kotor dan tidak terawat.

Sehari Sebelum Meninggal

Rabu, 19 Mei lalu Gigi membawakan lagu Bengawan Solo saat tampil di Hard Rock Café bali. “Ini tidak direncanakan sebelumnya. Kami mendegar berita di media Gesang masuk rumah sakit lagi karena gangguan prostat, penyakit jantung koroner, dan penyakit lainnya. Kami langsung ingat pada lagu Bangawan Solo, dan memutuskan untuk membawakannya nanti malam,” kata Hendy.

Sebelum menyanyikan Bengawan Solo Armand mengatakan pada penonton bahwa tadi pagi dia mendengar berita yang menyatakan Gesang telah meninggal dunia, tapi kemudian diralat karena berita itu tidak benar. “Gesang masih hidup dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Mari kita berdoa semoga Gesang cepat sembuh,” kata Armand.

Sayangnya doa kami tidak dikabulkan, Tuhan punya rencana lain, Kamis (20/5) pukul 18.07, Gesang meninggal dunia di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Solo. Gesang akan dimakamkan di pemakaman umum Pracimaloyo, Makamhaji, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat. Pemakaman dilaksanakan secara militer dengan inspektur upacara Wali Kota Surakarta Joko Widodo.

Riwayat Gesang
Gesang terlahir sebagai anak ke-5 dari 10 bersaudara dengan nama Soetadi, putra pasangan Martodihardo dan Soeminah pada 1 Oktober 1917 di Kemlayan Solo. Karena sakit-sakitan waktu kecil, orang tuanya mengadakan selamatan bubur merah-putih, mengganti nama Soetadi dengan Gesang yang dalam bahasa Jawa artinya hidup. Dalam adat jawa, ganti nama ini lazim dilakukan. Dan benar juga sejak saat itu Gesang tidak sakit-sakitan lagi.

Tahun 1941 Gesang menikah dengan Sawaliyah asal kampung Notosumen dan menambahi namanya dengan Martohartono. Sayangnya pernikahan ini harus berakhir tahun 1963 tanpa anak.

Berikut ini cuplikan tulisan Kompas tentang Obituari gesang. Tumbuh layaknya remaja di kampungnya, Kemlayan, yang banyak dihuni seniman, anak ke-5 dari 10 bersaudara itu bergabung dengan grup keroncong Kampung Marko, singkatan dari Marsudi Agawe Rukun, Kesenian, dan Olahraga. Ia lalu bergabung sebagai penyanyi dalam sejumlah grup keroncong: Kembang Kacang, Bunga Mawar, dan Irama Sehat.


”Bengawan Solo” termasuk lagu yang ditulis dengan cara ”awam”. Menurut sebuah versi, ”Bengawan Solo” lahir dari rengeng-rengeng atau senandung Gesang. Kemudian, dua rekannya, Slamet Wigyosuharjo dan Sunaryo, menuliskan notasinya.

"Hanya" 44 lagu digubahnya. Pada umur 24 tahun, ketika jatuh hati dengan Sawaliyah, Gesang menulis ”Saputangan”, lagu yang sampai hari ini menjadi lagu standar keroncong. Saat berpisah dengan orang yang dicintainya, ia menulis ”Pamitan” (1940) dalam bahasa Jawa. Era 1990-an, lagu itu dibawakan dalam bahasa Indonesia oleh Broery Pesolima.

Ketika ia terkagum-kagum dengan panorama Taman Tirtonadi, lahirlah lagu ”Tirtonadi” (1942), taman milik Puri Mangkunegaran. Ketika bergabung dengan kelompok sandiwara Bintang Surabaya di Surabaya, Gesang menggubah ”Jembatan Merah” (1943).

Jauh sebelum orang mengenal ”Imagine” dari John Lennon, Gesang telah menulis impian tentang dunia yang damai, ”Dunia Berdamai” (1942). Patriotisme Gesang terlihat dalam beberapa lagu, sebutlah ”Sebelum Aku Mati” (1963). Pada masa perjuangan, sekitar clash kedua, lahirlah ”Dongengan” berbahasa Jawa. Lagu itu berisi pesan agar para pejuang (atau siapa pun) tidak lupa pada rakyat yang pada zaman perjuangan bersusah payah membantu perjuangan. Akhir lagu itu mempertanyakan ”Suk yen aman walese apa?” (Nanti kalau sudah aman, apa balasanmu?).

Selama hidupnya tidak banyak yang kita (pemerintah) berikan pada Gesang selain Bintang Budaya Parama Dharma pada tahun 1992. Sebagai seniman besar yang mengharumkan nama bangsa bertahun-tahun Gesang hidup sangat sederhana di rumah berdinding bambu, hingga Gubernur Jateng ketika itu Soepardjo Roestam memberikan sebuah rumah. Itupun rumah yang amat sangat sederhana tipe 21 di Jl. Nusa Indah Blok III/8 Perumnas Palur, Karanganyar.

Kini setelah Gesang pergi meninggalkan kita, kita seperti baru tersadar telah kehilangan salah satu putra Indonesia terbaik. Semua tampak sibuk, menawari pemakaman di taman makam pahlawan dengan upacara militer, membangun museum keroncong di bekas rumah Gesang, menamai salah satu jalan di Solo dengan nama Gesang. Tanpa bermaksud mengecilkan arti semua tawaran itu, bukankah itu sudah terlambat? Selama ini kemana saja kita sebagai bangsa dalam memandang Gesang yang hidup?

Belajar tentang Kesederhanaan
Seperti setiap lagu ciptaanya yang sederhana lirik dan melodinya, begitu juga kehidupan Gesang. Dalam kesederhanaannya inilah terletak nilai tertinggi kehidupan Gesang.

Suatu ketika Keraton Solo menawari Gesang gelar Raden Tumenggung, sebuah gelar kehormatan buat abdi dalem yang dinilai mumpuni dalam bidangnya. Begini jawaban Gesang sebagaimana dikutip dari Detikcom: “Saya pakewuh (rikuh) pada diri sendiri. Apa pantas saya mendapat gelar Tumenggung? Saya ini orang kecil, takut kuwalat. Di samping itu juga ada kewajiban marak sowan (manghadap raja). Kesehatan saya tidak memungkinkan.”

Jawaban Gesang tidak berhenti di situ. “Waktu kecil saya di Kemlayan ini, tetangga saya para priyayi memiliki keahlian seni yang jauh lebih tinggi dari saya namun gelarnya hanya lurah atau bekel. Lha saya orang kebanyakan tiba-tiba dipanggil ‘Pak menggung’ saya jadi pekewuh dan harus banyak berkaca diri. Sudahlah, Pak Gesang saja sudah cukup.”

Walaupun tercatat telah menciptakan 44 lagu yang populer, Gesang mengaku banyak yang lupa dengan karyanya. "Tak banyak lagu yang saya ciptakan, hanya sekitar dua puluh hingga tiga puluh lagu selama saya menggeluti musik keroncong dari tahun 1935."

Apakah dia masih ingat judul seluruh lagu ciptaannya? "Saya tidak ingat seluruh lagu ciptaan saya. Semua sudah saya serahkan kepada masyarakat. Paling-paling kalau saya mendengarnya lagi, baru akan ingat lagi dan dalam hati sepertinya itu lagu saya yang dulu," katanya.

Bagitulah Gesang, dalam kesederhanaannya terletak kebesaranya. Walaupun Gesang telah tiada karyanya tidak akan pernah mati. Bagi kami, Gesang itu immortal. Selamat jalan eyang. (son/POSe)



« kehalaman sebelumnya | kembali keatas

Komentar


2010-05-22 22:56:23 - Dody H
pingin dengar nih Bengawan Solo versi GIGI... kalau bisa dimasukin dong di album GIGI selanjutnya... sekalian buat bantu keluarga Gesang dengan royaltinya tentunya.... ..salam PLnR...
2010-05-23 21:06:10 - karna
Pak Son, maap nih nama mas Dewa Budjana salah ketik rupanya, jadi Gudjana. Thanks Karna
2010-05-23 22:37:33 - ali afif gigikt tegal
Ok lah klo bengawan solo yg sudah di aransement ulAng Gigi bsok di masukin di album gigi yg trbaru aku suka lagu yang sngAt ok....mksih
2010-05-24 00:29:29 - rQ
wat gigi cb msukin lagu gesang y album terbarumu.. moga2 brmnfaat wat almrhumah dn keluarga.. selamat jln maestro INDONESIA...
2010-05-24 01:44:24 - opex
jadi penasaran lagu "bengawan Solo" Versi GIGI, ku tunggu selalu
2010-05-24 08:51:27 - Aan GIGIkit@ Malang
GIGI ayo recycle lagunya Gesang ( BENGAWAN SOLO ) versi GIGI & masukkan part ini dalam album terbaru.. kapan albumnya keluar... ???. Q selalu menunggu karya - karya mu... Jaya Terus GIGI !!!. Salam P L 'n R Forever...!!!!!!!!!!.
2010-05-24 13:21:15 - badrus zaman - blora
mas cuma mau usul kira2 bisa gak ya gigi menggandeng musisi indo lain utk menciptakan album salute to gesang seperti pd saat koes plus dulu, mengingat kurangnya perhatian bangsa kita terhadap beliau saat masih hidup, thx before
2010-05-24 15:51:34 - TriDery
turut berdka cita !!! jadi penasaran pengen denger lagu itu ! SEMANGAT ..
2010-05-24 22:22:58 - Aryaz
Kalo GIGI yang anransemen lagunya Eyang Gesang pasti Enak deh... Kami menunggu Bengawan Solo versi GIGI...
2010-05-27 13:37:25 - bede
poko nya apapun jenis musik klo gigi yg nyanyiin TOPBGT sukses bwt gigi
2010-06-01 16:07:13 - slem riyadi
pokoknya gigi no satu deh bwt bwa'n lagu apa pun,, pa lagi dengan gaya top nya kang armand,n permainan gitar kang bujana..uh.. top bngt lah..tak tnggu y..
2010-06-01 18:54:13 - Epul Mulyana
Iya masukin dnk lagu Bengawan Solo versi GiGi k Album baru,seumur hidup ak blm pnah dnger lgu bengawan solo yg trkenal kedahsyatan\'y ampe d translate ke 15 bhasa... ksian bgt dch gue,hahhaaa... salam P,L,\'n R.. GiGiKiTa KaRaWan[G]
2010-06-04 21:10:37 - ayu
amien,,,hidup gigi yg selalu mewarnai musik indonesia maupun asia,, sewaktu saya pulang tanah air secara kebetulan gigi manggung di hard rock bali mei yang lalu saya sempatkan melihat aksinya,,sangat luar biasa,,dan saya juga mendengar lagu bengawan solo versi gigi,,,ga bisa mikir cara mengimprovisasikan,,bagus ekali bahkan sangat rock sekali,,,bravo,,,GIGI,,,, ditunggu kehadirannya di paris franch semoga untuk mengisi hari kemerdekaan RI di paris,,,amien,,
2010-06-07 23:37:41 - poetoe
yupz gw jg usul klo GIGI buat album lagu2 org yg sudah prnh dibawakn GIGI dg versi GIGI.... mubadzir euy...
2010-07-19 14:44:10 - mareo handoko
paece,love"n RESPECT. that GIGI proof on this.

Verifikasi:
security code