News
tetaplah ngeband dan jadi rock star selamanya
30 Sep 2010 3:33pmIn Memoriam Imron Maulana
SETIAP kali menghadiri acara pemakaman saya seperti diingatkan bahwa kitapun sedang berbaris dalam antrian menuju akhir hidup kita. Sebagai manusia, datangnya kematian sepasti terbitnya matahari di pagi hari. Pada saatnya, tanpa kita sadari kita sudah berdiri di hadapan malaikat penjaga gerbang yang siap menyobek “tiket masuk” kita.
Perasaan seperti itu kembali saya rasakan Rabu siang, 29 September lalu, saat saya datang ke rumah duka di Jalan Pelmerah Barat, Jakarta. Perasaan itu semakin terasa menekan ketika saya tiba di tempat pemakaman umum Kemanggisan Pulo, tempat jenazah Imron Maulana dikebumikan. Padahal baru tiga minggu lalu, saya bersama teman-teman POS Entertainment dan Gigi mengantar Puput ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Saya berangkat dari kantor bersama Luki sekitar pukul 11.30. Sebelum menuju ke rumah duka, kami berhenti di deretan warung makan di samping studio Trans TV, menunggu Budjana yang akan ikut bersama kami. Sekitar sepuluh menit menunggu, Budjana datang bersama dengan Borra, dan kamipun langsung melaju ke rumah Imron.
Armand yang malam sebelumnya berencana melayat, pagi itu mengabarkan bahwa dia tidak bisa datang karena Naja, putrinya semata wayangnya, sakit. Sementara Hendy mesti masuk studio rekaman untuk penggarapan album Ligro. Thomas juga tidak bisa datang. Jadilah kami jalan berempat.
Setelah lima kali berhenti untuk tanya alamat, kami tiba. Saat itu sekitar pukul 12 siang. Ada beberapa orang di rumah, kebanyakan wanita. Kami disambut oleh Ibu Imron dan beberapa wanita lain. Dari cerita Ibu Imron inilah kami tahu sedikit tentang penyakit yang dideritanya tiga bulan terakhir.
Menurut ibunya, sudah sejak tiga bulan lalu Imron sakit kepala dan badanya panas. Semula diagnose dokter adalah typus, dan setelah diobati kondisinya mulai membaik. Tapi ini tidak berlangsung lama, karena suhu tubuh Imron kembali tinggi dan mulai susah makan. Suatu ketika, saking tingginya temperatur tubuhnya, timbul gangguan pada mata Imron. “Matanya jadi jereng (juling),” kata ibunya.
Setelah menjalani pengobatan alternatif, kondisi anak terakhir dari 7 bersaudara ini kembali membaik, dan matanya normal kembali. Bahkan dua hari setelah Lebaran, Imron yang merasa sehat, keluar rumah membawa motor. Tapi lagi-lagi suhu tubuhnya kembali meninggi dan kepalanya terasa sakit. Dokter kembali memberinya obat, kali ini dengan pesan, jika gejala penyakitnya tidak berkurang dia mesti menjalani pemeriksaan kepala (CT-scan).
Belum lagi rencana itu dilakukan, kemarin sore, 28 September, Imron tak sadarkan diri di rumahnya, dan meninggal dunia tak lama sesudahnya. Saya mendapat BBM (black berry messenger) pertama kali dari Oniel pukul 21.08: “Mohon doa untuk kesembuhan teman kita Imron (gigikita) Jakarta yang sekarang sedang koma..” berita ini disusul pada pukul 23.28 yang berbunyi “Innalillahi Wainnaillaihi rojjiuun, telah meninggal dunia pada hari ini teman kita Imron.., rumah duka Jl. Palmerah Barat..dst.”
Tidak ada penyesalan apapun terhadap kepergian Imron, kecuali beritanya yang datang begitu mendadak. Padahal Imron telah menderita sakit sejak 3 bulan lalu. “Kenapa tidak ada yang memberitahu kita? Agak aneh kalau sampai tidak ada satupun gigikita yang tahu keadaannya,” kata Budjana. Iyung yang juga hadir di pemakaman Imron mengaku tidak tahu kondisi Imron selama ini.
Budjana teringat suatu saat dulu, ketika sopirnya mendadak berhenti bekerja, dan Imron menawarkan diri menjadi sopirnya. “Agak unik tawaran itu. Dia anak band dan punya grup band, masak mau jadi sopir,” kata Budjana.
Danawa
Imron yang memiliki nama lengkap Imron Maulana Bin HM. Ali Sarmili ini tidak hanya punya band, yang belakangan saya tahu namanya Danawa, ia bahkan telah membuat album demo yang berisi delapan lagu. Sebagai vokalis, Imron menjadi vokalis ujung tombang Danawa yang menggerakan empat temannya yang lain. Menurut Sami, CD demo itu telah diberikan ke POS dan ke Sony-BMG.
Di antara semua orang kantor, Sami adalah orang yang paling dekat dengan Imron. “Dia itu sering menelpon saya untuk mencari tahu jadwal Gigi. Imron juga pantas jadi vokalis karena suaranya bagus dan tampangnya juga boleh,” Kata Sami. Karena kedekatan ini Sami lah yang dipercaya Imron membawa CD demo Danawa untuk POS dan Sony-BMG.
“Kalau punya duit, Imron biasanya menyewa studio untuk rekaman bersama teman-temannya,” kata ibunya. Kakaknya dan tante Imron sering menggoda dengan mengatakan: “Percuma kamu rekaman, nggak ada orang Betawi yang jadi penyanyi.” Mendengar sindiran itu Imron biasanya cuma tertawa. Mungkin dalam hatinya ia berkata: “Lha Benyamin dan Ida Royani itu apa!”
Imron kini sudah tenang bersamaNya. Kami berharap Tuhan menyediakan tempat yang terbaik buatnya. Buat keluarga dan orang-orang terkasih yang ditinggalkannya semoga diberi ketabahan dan keikhlasan melepas kepergiannya.
“Sebenarnya kami, orang tua dan kakak-kakaknya berencana akan menikahkan Imron dalam waktu dekat ini. Sebab walaupun belum punya pekerjaan tetap dia telah punya pacar. Nggak baik juga terlalu lama membujang. Imron sekarang ini sudah 30 tahun,” kata ibunya.
Tetapi, begitulah yang selalu terjadi. Pada akhirnya kita cuma bisa berencana, tapi kata akhir cuma Tuhan yang punya. Mungkin Tuhan sayang pada Imron, sehingga cepat-cepat memanggilnya.
Selamat jalan kawan, tetaplah nge-band di sana dan jadi rock star selamanya. (son/POSe)
« kehalaman sebelumnya | kembali keatas
Komentar

