News
puput yang (tidak begitu) saya kenal
22 Sep 2010 9:55amDI ANTARA semua kru Gigi yang berjumlah 6 orang (termasuk 2 sound engineer), Puput-lah yang paling pintar bermain musik. Meskipun tugasnya “hanya” memastikan bass dan semua perangkatnya berfungsi dengan benar saat manggung maupun waktu latihan, Puput ternyata juga bisa memainkannya dengan baik (tentu saja). Bukan cuma itu, dia juga mahir main gitar, bisa bermain keyboard dan drum. Saat sound check, Puput juga yang kebagian peran bernyanyi selain main bass. Terakhir saya tahu kalau dia ternyata bisa juga menciptakan lagu.
“Puput memang serba bisa,” kata Pur, suatu saat. “Rasanya cuma keberuntungan saja yang belum berpihak kepadanya.” Maksud Pur, potensi dan kemampuan Puput sebenarnya jauh lebih besar daripada apa yang dikerjakannya sebagai kru bass Gigi. “Dia mestinya bisa jadi pemain band,” katanya.
Saya setuju dengan Pur. Oleh karena itu saya tidak terkejut ketika 2 tahun lalu Thomas yang membentuk “Solitaire Addict” bersama dan untuk Bounty, putra sulungya, lalu menarik Puput sebagai pemain gitarnya. Di Solitaire Addict peran Puput sangat besar. Ini bukan saya yang bilang, tapi Vicky Notonogoro yang bersama Puput menjadi penjaga 6 senar Solitaire Addict.
“Peran Puput besar banget. Kepergiannya membuat kami sangat kehilangan. Rasanya nggak ada yang bakal bisa nggantiin dia,” kata Vicky saat bersama saya di dalam mobil menuju ke rumah duka, 4 September lalu. Jadi begitulah akhir-akhir ini Puput menjalani peran ganda, sebagai kru bass Gigi dan sebagai pemian gitar Solitaire Addict.
Menurut Armand komposisi kru Gigi saat ini ibarat The Dream Team. Selain mumpuni men-set alat, Pur (sound engineer FOH), Muning, Aji, dan Puput, bisa bermain musik. Cuma Narto penanggungjawab mixer monitor yang tidak bisa main musik. Tapi Narto tangkas membuat sajian suara yang memuaskan semua personil Gigi.
Ada dua faktor utama yang membuat 6 sekawan ini (bersama Iis, kru non teknis) dijuluki The Dream Team. Pertama mereka pandai bermian musik, dan yang kedua mereka (Pur, Aji, Narto) bekas orang rental sound system. Dengan komposisi seperti ini, semua kebutuhan, baik teknis (setting) dan non teknis (taste musik) terpenuhi.
Jika ada hal yang pantas dikeluhkan (bahkan tim terbaikpun punya kelemahan) adalah kebiasaan mereka yang suka ngaret, tapi Riski, road manager Gigi –setidaknya sampai saat ini- masih bisa mengatasinya.
Maksudnya begini, Riski masih bisa menggedor pintu kamar mereka jika sudah waktunya bangun tapi mereka masih saja molor. Riski juga punya trik yang lain, yaitu menginformasikan waktu keberangkatan lebih awal dari yang sebenarnya.
Kehilanggan Ganda
Karena peran gandanya itu, kepergian Puput membuat kami merasa kehilangan ganda juga. Kami POS Entertainment kehilangan kru bass Gigi yang bisa melayani Thomas dengan baik, sedangkan Solitaire Addict kehilangan pemain gitar utamanya.
Tapi seberapapun besarnya rasa kehilangan kami, tentu tidak sebesar rasa kehilangan istri dan ketiga anak Puput. Rasa sedih itu jadi semakin menekan jika mengingat anak Puput masih kecil-kecil. Bahkan yang paling kecil masih berusia dua minggu. Beban terbesar tentu saja ada dipundak Hanna, istrinya. Trauma pasca melahirkan belum sepenuhnya pulih, kini dia mesti memikul beban tambahan yang luar biasa besarnya.
Tapi Hanna sangat tegar, setidaknya itulah yang tampak hari itu. Saya yang ditugasi mengabari meninggalnya Puput dalam kecelakaan pagi itu, terus terang saja sangat gelisah. Saya membayangkan Hanna akan histeris.
Ternyata saya keliru, waktu kami datang di rumah duka Jl. Johar Baru –saya bersama Intan istri Thomas, Bora istri Budjana, dan Vicky, dan satu teman lain- Hanna sudah tahu berita meninggalnya suaminya. Bahkan sudah ada beberapa pelayat yang datang di rumah Om Puput itu. Rumah Puput sendiri hanya berjarak beberapa meter dari rumah om-nya.
Dari Om Puput inilah saya tahu Hanna menerima berita duka itu dengan tegar. Ketabahan itu juga terlihat waktu jenazah tiba di rumah duka. Tidak ada teriakan histeris waktu keluarga melihat wajah jenazah. Yang ada hanya air mata yang menetes.
Bahkan saat keranda diangkat keluar rumah untuk di semayamkan di masjid, sebelum dimakamkan, Hanna sendiri yang meminta agar dia bersama ketiga anaknya diperkenankan mberobos di bawanhya. Dengan menggendong anak ke tiga dan menuntun anak pertama dan kedua mereka berjalan di bawah keranda. Tradisi yang biasa dilakukan pada acara pemberangkatan jenazah.
Setelah disemayamkan di Masjid Jami Al Ikhwan Johar Baru sekaligus Salat Ashar, jenazah diantar ke tempat peristirahatan terakhir di pemakaman umum Kawi-Kawi yang jaraknya sekitar 1 km dari rumah duka. Begitulah kami melepas kepergian Puput menghadap Tuhan hari itu.
Saya bersama Luki (yang mengawal jenazah dari RS di Purwakarta ke rumah duka) mewakili seluruh awak POS Entertainment dan Gigi ikut diacara pemakaman. Gigi tidak bisa hadir sebab sore itu masih harus tampil di acara Ngabuburit di Bandung. Sementara Awak POS yang lain (Dhani, Seno, Yudi, Sami, Anies) berbagi tugas, ada yang mengurus acara di Bandung, ada yang mengantar Pur, Narto, dan Pacung ke rumah sakit rujukan RSPAD Gatot Subroto dari RS di Purwakarta.
Menurut informasi yang saya terima, karena parahnya kondisi Pur dan Narto, kami disarankan pindah ke rumah sakit rujukan di Jakarta. Semula RS yang dituju adalah RSPP, tapi karena tidak ada ruang ICU untuk merawat Pur kami akhirnya ke RSPAD.
Pagi itu di KM 86
Sebenarnya konser Ngabuburt tahun ini sudah berakhir pada tanggal 27 Agustus, setelah berjalan di 8 kota (Jakarta, Majenang, Tasik, Cipanas, Sukabumi, Cimahi, Serang, dan Karawang). Lalu Djarum Coklat menambah satu titik lagi di Lapangan Pacuan Kuda Arcamanik Bandung pada 4 September. Acara tambahan ini sekaligus menjadi konser penutup Ngabuburit 2010.
Kami yang sudah santai mejelang Idul Fitri 1431 H harus bersiap kembali. Menghubungi Thunder Production untuk menyiapkan sarana produksi panggung dan sound system dan mengontak pengisi acara yang memang kontraknya untuk tampil sudah berakhir pada Ngabuburit di Karawang. Seno juga mesti menghubungi rental kendaraan untuk menyewa Kijang Inova dan Pregio.
Begitulah pagi tanggal 4 September pukul 5 pagi, kru Gigi berangkat dari kantor POS di Tebet dengan tiga kendaraan. Dua Kijang dan satu Daihatsu Xenia. Dalam skenario, saya akan menyusul ke Bandung bersama Hendy, Budjana, Riski, dan Iis dengan Pregio pukul 10. Karena ada wartawan infotainment yang ikut, kami menambah satu mobil kijang lagi untuk keberangkatan kloter ke-2 ini.
Skenario itu berantakan, katika pada pukul 7 saat bersiap mandi pagi, saya menerima telepon dari Seno yang mengabarkan bahwa mobil yang ditumpangi kru Gigi mengalami kecelakaan di KM 86 tol Cipularang. Sampai saat itu saya tidak membayangkan kecelakaan itu begitu hebatnya.
Tapi saya mulai curiga waktu mendapat kabar kedua, yang isinya semua sudah berhasil di evakuasi ke RS Purwakarta, kecuali Puput yang masih terjepit di mobil. Mobil yang celaka itu berisi Puput, Narto, Pur, Pacung, dan sopir.
Menurut cerita dari mulut-kemulut, daerah itu angker dan sering terjadi kecelakaan. Tapi bagi kami penyebab kecelakaan hari itu jelas, sopir yang mengantuk.
Setelah itu telepon bersliweran. Pada Yudi yang akan berangkat ke TKP saya bilang bahwa show must go on. “Kita mesti berbagi tugas untuk menghadapi masalah ini.” Jadi kami berpencar, ada yang ke TKP, mengurus rumah sakit, sebagian menyiapkan alat untuk acara sore harinya.
Saya sendiri mendapat tugas memberitahu keluarga Puput di Jakarta, setelah ada kabar yang memastikan Puput meninggal dunia.
Menabrak Belakang Truk
Belakangan saya tahu kalau kijang sewaan itu menabrak bagian kanan belakang truk. Kondisi jalan menanjak, kijang berusaha mendahului sebuah mobil dari sebelah kiri tapi gagal dan menabrak truk yang sedang merayap.
Dari Vicky (yang entah dapat kiriman dari mana) saya memperoleh foto kijang yang dinaiki Puput dkk. Melihat kondisi kijang yang ringsek bagian depan hingga bagian tengah kiri, saya lalu membayangkan betapa kecangnya lari mobil itu.
Dalam kecelakaan itu, Puput yang duduk di samping sopir meninggal di tempat, Narto yang duduk di belakan Puput mengalami trauma di perutnya, Pur yang duduk di belakang sopir luka parah di kepala bagian kiri, Pacung di bangku belakang pingsan tapi tidak mengalami luka parah. Ajaibnya sopir selamat, hanya mengalami luka ringan dan depresi.
Akibat trauma di kepala, Pur tak sadarkan diri dan masuk ICU selama lebih dari seminggu. Tapi sungguh luar biasa kemajuan Pur, sekarang dia sudah bisa berkomunikasi walau masih sangat terbatas. Dia juga sudah pindah dari ICU ke ruang perawatan biasa. Kemarin malam (20/8) kami menjengguknya dan berbicara dengan Pur.
Sementara Narto, begitu sampai di RSPAD langsung masuk UGD untuk dievaluasi selama 24 jam. Kekhawatiran dokter, ada perobekan ginjal, karena Narto mengeluh nyeri dibagian perut saat badan dalam posisi tidur telentang. Kami bersyukur kekhawatiran dokter tidak terjadi. Setelah seminggu Narto keluar dari rumah sakit, dan hingga kini masih menjalani rawat jalan.
Sebenarnya kami mendapat banyak sekali rezeki sepanjang tahun ini, tapi pagi itu semuanya seperti tidak ada artinya lagi. Kami kehilangan jauh lebih besar dari apa yang sudah kami peroleh sepanjang tahun ini.
Saya mengajak teman-teman untuk introspeksi, karena jika kami amati, sejak ngabuburti akan dilaksanakan ada saja hambatan yang kami alami. Dimulai Dhani yang masuk rumah sakit, disusul Armand karena demam berdarah, dan beberapa kejadian lain yang tidak mengenakan.
Rupanya Dhani, Armand, Budjana, dan teman yang lain mempunyai pemikiran yang sama dengan saya. Introspekksi terhadap segala sesuatu yang telah kami lakukan selama ini. Apakah semua pekerjaan telah kita jalankan dengan benar dan jujur. Jangan-jangan ada banyak kesalahan, kecurangan, dan kelicikan yang kami lakukan dengan baik sengaja maupun tidak? Atau selama ini kami terlalu serakah dan kurang mensyukuri apa yang telah kami terima.
Kami pun mengadakan doa bersama pada 5 September di rumah Dhani. Pada saat yang bersamaan digelar tahlil di rumah puput, dan di rumah Aji di Tasik.
Kepergian Puput menginggatkan saya bahwa kehidupan kita begitu rapuh. Job yang banyak, pemasukan yang besar tidak menjamin hidup kita akan baik-baik saja. Dengan satu pukulan saja, kita manusia bisa tersungkur. (son/POSe)
Catatan:
Pada tanggal 5 September pagi, sehari setelah kecelakaan maut itu, mobil kijang sewaan yang kami parkir di depan kantor, raib dicuri pada pukul 7 pagi. Jadi dalam dua hari, rental mobil tempat kami menyewa kehilangan 2 Kijang Inova, 1 hancur karena kecelakaan dan 1 hilang dicuri.
« kehalaman sebelumnya | kembali keatas
Komentar

