News
kisah dibalik konser 11 januari 2008 (2-habis)
20 Jan 2010 10:37amJika Raja Bicara, Rakyat Diam
SAAT-SAAT menjelang konser 11 Januari sungguh terasa sangat menegangkan. Terus terang saja kami tidak siap menghadapi demonstrasi dan kampanye Brajamusti yang mengajak masyarakat memboikot konser Gigi. Tidak terlintas sedikitpun dalam benak kami akan terjadi peristiwa seperti ini. Sehingga tidak ada langkah antisipasi apapun yang kami persiapkan sebelumnya. Terhadap setiap kejadian yang muncul, kami cuma bisa melakukan respon spontan.
Sebenarnya ada isyarat dari Koko (Koko Harry Santoso) pemilik Deteksi Productions, promotor yang menggelar banyak sekali konser musik, termasuk konser raksasa Soundrenaline, Rising Star, dan Most Wanted. Waktu kami bercerita tentang rencana kami menggelar konser tunggal di dalam Stadion Mandala Krida, Koko bilang: “Memang boleh menggelar konser di dalam lapangan?” katanya keheranan.
Menurut dia Deteksi tidak pernah mendapat izin menggelar konser di dalam lapangan, dan ini sudah belangsung cukup lama. Izin hanya diberikan untuk konser di halaman parkir stadion. Kami sama herannya dengan Koko, sebab faktanya kami telah mengantongi izin itu, baik dari yayasan pengelola stadion maupun dari Polsek bahkan Polda Jogja. Tapi waktu itu kami tidak menganggap isyarat Koko sebagai suatu yang berakibat serius di kemudian hari.
Koko juga memberi masukan tentang profil penonton Jogja yang mayoritas enggan membeli tiket. Mereka dengan sabar menunggu di luar pintu stadion hingga pertunjukkan berjalan 3/4 lagu, lalu meminta (memaksa!) panitia membuka pintu. Biasanya penitia akan membuka pintu –selain karena desakan massa- juga agar lapangan terisi penuh dan bagus di kamera.
“Harga tiket untuk pertunjukan out door juga nggak bisa terlalu tinggi. Untuk ukuran Jogja harga tiket paling tinggi Rp 10 ribu,” kata Koko yang saat itu memberi banyak sekali masukan. Kami sangat berterima kasih terhadap masukan itu.
Berdasarkan masukan Koko dan pihak-pihak lain yang punya pengalaman menggelar konser di Jogja, kami memutuskan untuk mencetak 15 ribu lembar tiket seharga Rp 10 ribu per tiket. Tapi cerita tentang jumlah penonton yang akhirnya membeludak jauh di atas 15 ribu ini untuk sementara kita tunda dulu. Kita kembali pada malam tanggal 10 Januari atau H -1.
Deal Di Belakang Layar
Untuk menghadapi gencarnya demo kami mengambil sejumlah langkah, termasuk menghubungi ketua kelompok suporter PSIM itu. Sayangnya kami tidak bisa ketemu karena ketua Brajamusti sendang tidak ada di Jogja. Tapi entah bagaimana ceritanya, kami dihubungi seseorang yang mengaku mewakili Brajamusti. Hubungan telefon ini berlangsung sejak sore hingga lewat tengah malam dengan sangat intensif.
Menurut dia, konser Gigi bisa terus berlangsung di dalam Stadion Mandala Krida asalkan kami memberi kompensasi sejumlah uang buat PSIM. Uang itu akan digunakan untuk membantu biaya mendatangkan pemian dari luar (biaya transfer). Kami tidak mengiyakan permintaan itu tapi kami berjanji untuk bertemu di suatu tempat untuk merundingkannya. Sayangnya setelah semua siap, orang yang tersebut menghilang, dan tidak bisa dikontak, meninggalkan kami yang kebingungan. Kelak kami tahu kenapa orang ini menghilang.
Selain mencoba berkompromi dengan Brajamusti kami pada tanggal 10 siang mendatangi kantor harian Kedaulatan Rakyat di Jl. Mangkubumi untuk menjawab berita negatif Brajamusti di harian itu. Kami ingin masyarakat Jogja mendengar versi kami dan alasan-alasan kami yang tidak mungkin membatalkan acara karena semuanya sudah siap. Tentu saja kami tidak bercerita tentang adanya deal tengah malam itu.
Di antara berbagai upaya yang kami tempuh, ada satu hal yang kami yakini berhasil meredam gejolak Brajamusti, yaitu diterimanya kami oleh Sultan Hamengku Buwono X yang juga gubernur Jogja di kantornya. Sebenarnya kami sangat berharap bisa bertemu sultan di istana, tapi pihak protokol menganggap kantor gubernur lebih tepat, maka disanalah kami bertemu Sultan.
Dalam pertemuan tersebut Gigi didampingi oleh Dhani Pette dan Hwe-Hwe pemilik Thunder. Sultan menyambut hangat kedatangan Thomas, Hendy, Armand, dan Budjana dan berharap Gigi bisa tampil dengan baik malam nanti. “Saya yakin masyarakat Jogja akan memberikan apresiasinya pada Gigi,” kata Sultan.
Sabdu Pandito Ratu
Kalimat inilah yang meredam semua gejolak yang terjadi selama ini. Sultan HB X telah menunjukkan karisma dan wibawanya yang sangat besar di mata masyarakat Jogja. Sabdo pandito ratu, (suara raja sama dengan suara pendeta/Tuhan), ungkapan lama yang rasanya masih relevan buat Sultan HB X.
Kami yakin orang atau calo perkara yang mengaku mewakili Brajamusti dalam deal tengah malam itu juga mundur setelah tahu Sultan bersedia menerima kami dan memberikan dukungannya untuk konser Gigi.
Setelah Sultan bicara, demo tidak terjadi lagi, kami juga tidak lagi diteror, semuanya kembali berjalan lancar hingga waktu pertunjukan berakhir. Lebih dari 50 ribu orang nonton dengan tertip penampilan Gigi sampai tuntas.
Tentang banyaknya jumlah penonton ini bisa kami menggambarkannya sebagai berikut. Kami memang mencetak 15 ribu tiket dan bertekad untuk tidak membuka pintu buat yang tidak memiliki tiket. Tapi tekanan yang sangat besar dan imbauan polisi untuk buka pintu agar tidak terjadi penumpukan massa membuat kami berubah pikiran.
Kami membuka pintu karena masih banyak pemilik tiket yang tidak bisa masuk karena terhalang massa tanpa tiket yang menyemut di depan gerbang. Padahal 15 ribu tiket yang kami cetak sudah habis siang harinya. Dalam hati kami was-was terhadap keselamatan penonton. Kami tidak ingin kejadian buruk berupa meninggalnya penonton pada konser yang kami baca beritanya tidak terjadi di konser ini.
Mungkin ada yang bertanya kenapa POS cuma mencetak 15 ribu tiket? Ini bukan angka yang begitu saja muncul, kami mempertimbangkan banyak sekali masukan dan melakukan proyeksi jumlah penonton. Menurut kami, jumlah itu adalah jumlah terbanyak yang masuk akal untuk dijual.
Jika tiket itu laku seluruhnya, mulai bagian depan barikade panggung hingga FOH akan penuh penonton. Dengan kata lain separuh lapangan akan terisi. Ini aman dari sisi pengambilan gambar. Ternyata proyeksi kami salah. Minat masyarakat Jogja untuk menonton Gigi sangat besar, dan mereka mau membeli tiket.
Malam itu bukan lagi separuh lapangan terisi, tetapi seluruhnya. Bahkan seluruh tribun stadion berkapasitas 20 ribu orang ini dipadati penonton.
Akses ke Sultan
Sebagai penutup cerita ini kami akan menceritakan bagaimana kami membangun akses ke Sultan HB X.
Sebenarnya kami sudah lama mencoba membangun akses ini tapi bukan untuk mengatasi gejolak yang terjadi. Kami kan tidak tahu kalau konser ini memunculkan reaksi yang begitu kuat, walaupun kami yakin yang bereaksi itu cuma dilakukan sebagian kecil anggota Brajamusti. Sementara sebagian besar lainnya –kami yakin- tidak keberatan bahkan mendukung dengan konser Gigi, apalagi masyarakat Jogja secara keseluruhan.
Tapi sekecil apapaun gejolak itu –saat itu- terasa sangat mengkhawatirkan sebab berpotensi untuk ditunggangi hingga menjadi besar. Bahkan bisa menyulut sentimen yang bakal merugikan Gigi di kelak kemudian hari.
Jalur pertama yang kami upayakan adalah melalui ibunya Mia, manajer Lusy Rahmawaty yang juga awak POS Entertainment. Mia sendiri yang menawarkan. Menurut dia, ibunya kawan dekat Ratu Hemas, istri Sultan. Maka kami buatlah surat permohonan menghadap Sultan melalui Ratu Hemas.
Jalur kedua melalui Pak Edy, seorang pengusaha ternama Jogja teman Hwe-Hwe. Pak Edy ini adalah teman dekat Sultan yang konon kabarnya sering bermain golf bersama. Surat sudah kami buat dan langsung kami serahkan ke Pak Edy melalui sekretarisnya. Surat itu kami masukan ke amplop tapi tidak kami lem. Ini kami sengaja agar Pak Edy bisa mengetahui juga isi surat itu.
Langkah ini (tidak memasukan surat dalam amplop tertutup) ternyata ada hikmahnya, karena ternyata kami salah tulis. Kami menulis Sultan Hamengku Buwono IX, padahal seharusnya HB X. Surat itu langsung kami tarik untuk diganti dengan yang baru.
Melalui dua jalur ini kami berharap bisa bertemu Sultan untuk memaparkan rencana kami mengadakan acara “Bersepeda Bareng Gigi,” sebagai program pembuka konser Gigi. Rutenya dari kraton ke Mandala Krida atau sebaliknya. Sayangnya Sultan pada saat itu sedang tidak ada di Jogja, sehingga surat kami baru diterima beberapa hari menjelang konser, dan kami diterima pagi hari tanggal 11 Januari atau beberapa jam sebelum acara dimulai pukul 20.00.
Walaupun terlambat, pertemuan dengan Sultan yang diliput media massa itu langsung menghentikan semua kontroversi dan ketegangan yang terjadi antara kami dengan Brajamusti.
Bagi kami ini menunjukkan kalau Sultan HB X –seperti kata banyak orang- mempunyai pengaruh yang sangat kuat. Sultan yang sangat dicintai rakyatnya. Berkat restu Sultan, konser berjalan dengan aman, dan meninggalkan kenangan yang tak terlupakan. Dalam hati kami bertekad akan kembali ke Jogja suatu saat kelak. (son</POSe-Habis)
« kehalaman sebelumnya | kembali keatas
Komentar

