header

Newsnews

2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7

hujan angin memorakporandakan panggung gigi reunion (1)

1 Nov 2011 4:49pm

TIDAK ada kekuatan yang lebih besar dari kekuatan alam. Jika alam murka tidak ada apapun yang bisa bertahan. Kita telah melihat bagaimana dahsyatnya tsunami Aceh dan Fukushima, gempa Jogja, letusan Merapi, banjir bandang Wasior memorak-porandakan bangunan dan merengut ribuan nyawa. Dalam sekala yang jauh lebih kecil kami mengalami bagaimana alam mengacaukan panggung Gigi.


Saat itu tanggal 24 Oktober siang hari. Gigi dan Gigi Reunion siap tampil di Stadion Canda Bhirawa Pare Kediri pada malam harinya, setelah malam sebelumnya tampil di Madiun. Konser ini merupakan bagian dari rangkaian tur konser “Djarum Coklat Extra, Apa Kabar Kawan” yang berlangsung di 9 kota. Pare adalah kota ke-7.


Panggung sudah berdiri dan sound system sudah siap. Rudra dan Narto sebagai sound man telah meminta Gigi dan Gigi Reunion dipanggil untuk sound check. Maka sayapun meminta Riski sang road manager untuk memberangkatkan Armand dkk dari hotel tempat mereka menginap di Kediri. Jarak antara Kediri ke Pare sekitar 30 menit dengan mobil.


Sekitar pukul 2.30 rombongan pemain datang dan langsung naik ke panggung. Suasana siang itu memang mendung dan berangin, banyak awan di langit tapi masih tampak sepotong langit biru di kejauhan. Karena itu kami optimis tidak akan turun hujan, setidaknya bukan hujan yang lebat. Lagu pertama, kedua, dan ketiga berlangsung dengan aman.


Masuk ke lagu ke-4, saat akan mencoba formasi ukulele di lagu Sahabat, hujan mulai turun. Semula cuma gerimis, tapi kemudian menderas. Tempias air mulai membasahi panggung membuat kru bergerak cepat menutup amplifier, efek, dan semua alat elektronik. Para pekerja panggung tidak kalah sigap, bereka bergerak menyeret lembaran plastik untuk menutup speaker, lampu, dan mengamankan sambungan kabel listrik.


Karena hujan  makin deras disertai angin kencang, kami memutuskan untuk menghentikan sound check dan membawa Gigi dan gigi Reunion kembali ke hotel. Yang masih dilapangan melakukan ikhtiar apapun untuk mengamankan panggung khususnya peralatan elektronik yang sangat rentan terhadap air. Saya, misalnya, berlindung dibalik terpal di FOH (front of house) sambil memegangi plastik penutup mixer audio. Lighting, dan perlengkapan video untuk gambar multi media. Kami yang bertahan di FOH adalah saya, Pepen, Luki, dan operator multi media dari persewaan Kalasan.


Di sela-sela palstik penutup, kami melihat di panggung semua sibuk bergerak kesana kemari, mengikat plastik pelindung dan melakukan apa saja untuk menyelamatkan peralatan. Tubuh para pekerja sudah basah kuyup karena air hujan diembus angin masuk ke smua sudut panggung.


Di lapangan mulai tampak genangan air, merata di seluruh lapangan walaupun tidak terlalu dalam, kira-kira sematakaki. Lalu munculah kejadian itu. Angin bertiup kencang dan makin kencang, seperti badai. Cabang-cabang puhon melengkung, daun-daun berguguran, lalu satu persatu wall of fame gambar Gigi dan Gigi Reunion yang jumlahnya ada 7 buah bertumbangan. Padahal gambar itu dipasang dalam bingkai aluminium yang kekar. Bingkai atau rigging yang biasa dipakai untuk mendirikan tenda untuk konser musik dan semacamnya.


Lorong di pintu masuk juga roboh. Konsep lorong ini pertama kali digunakan pada konser AKK ke-3 di Sabuga Bandung beberapa bulan lalu. Lorong sepanjang kira-kira 15 meter ini ditutup kain hitam dan disepanjang dindingnya dipajang foto-foto Gigi. Tujuannya untuk menghantar penonton memasuki dunia baru yang berbeda dengan dunia diluar, yaitu dunia Gigi Reunion.


Meski semua mulai kacau balau, yang terburuk belumlah tiba. Hingga angin menggoyang giant booth Dajrum Coklat Extra yang ukurannya 12 X 6 meter. Cungkup giant booth yang berbentuk kerucut terbang dibawa angin jatuh tertelungkup beberapa meter di sebelah kanan stan besar itu. Atap di samping kiri dan kanan stan besar itu tercabik, membuat apa saja yang ada di bawanya basah.


Puncak dari serangan badai, sebut saja begitu, adalah sobeknya separuh atap panggung utama. Akibatnya panggung dan segala peralatan yang ada di atasnya langsung berhadapan dengan langit yang mencurahkan hujan.


Hujan masih terus turun sampai kira-kira sejam, tetapi serangan angin itu sendiri berlangsung sangat cepat, hanya beberapa menit. Saking cepatnya, kami yang berlindung di FOH bahkan tidak tahu bagaimana proses rubuhnya wall of fame, tenda-tenda, dan diterbangkannya atap giant booth dan panggung utama. Tahu-tahu semuanya sudah terbuka dan berserakan di tanah.


Diundur Sehari


Setelah “serangan” kilat itu, hujan mulai redah, dan sore itu juga kami berpatroli memeriksa seberapa kerusakan yang timbul akibat –sebut saja- serangan badai itu. Hasilnya, karpet basah total, separuh atap sobek menggantung disisi panggung, efek gitar Baron rusak, satu ampli basah dan tidak bisa digunakan, mixer monitor basah dan mesti dikeringkan sebelum bisa digunakan lagi. Tenda merchandise Gigi juga roboh bersama tenda tenda yang lain.


Meski kerusakan cukup parah, kami masih opitimis pertunjukan bisa tetap berjalan malam itu. Kami lalu berunding dengan Djarum dan EO local. Yang terakhir ini secara intens berkomunikasi dengan aparat keamanan dari Polsek Pare. Ada dua pilihan yang diajukan pihak Djarum, pertama pertunjukan tetap dilaksanakan malam itu juga tetapi digeratiskan (normalnya tiket dijual Rp 10 ribu). Kedua menunda konser sehari dengan konsekuensi, kami mesti membuat pengumuman secara ekstensif, baik secara langsung di lokasi dan melalui radio-radio.


Kami yang membuat pilihan tapi kata akhir ada ditangan Polres. Dan Kapolres memutuskan memilih opsi ke-2, untuk menunda pertunjukan sehari, menjadi 25 Oktober, waktu dan tempat tidak berubah, tetap Stadion Canda Bhirawa Pare. Alasan Kapolres, hujan membuat peralatan elektronik dan kabel-kabel listrik basah, sehingga menimbulkan risiko keselamatan yang sangat besar. Risiko kesetrum inilah yang dihindari. Kami setuju dengan alasan itu, walaupun kalau boleh memilih kami ingin pertunjukan tetap berlangsung malam itu juga. Begitu keputusan penundaan dikeluarkan, aparat kepolisian langsung ditarik dari lapangan.


Penundaan ini menimbulkan konsekuensi ikutan dari sekadar gagalnya manggung malam itu. Bagi kami penundaan ini membuat kami mesti memperpanjang jadwal tinggal di hotel, menjadwal ulang tiket pesawat dan ini tidak mudah dan memakan biaya besar karena dilakukan mendadak. Mobil dan bus yang kami sewa juga mesti diperpanjang. Untungnya jadwal artis dan MC masih memungkinkan untuk diundur sehari.


Sisa hari itu kami isi dengan memperbaiki semua “kerusakan.” Atap panggung diturunkan untuk memasang terpal pengganti. Membersihkan lampu dan peralatan elektronik lain dari air dengan cara memanaskannya dengan lampu, karena kami tidak bisa menemukan hair dryer pinjman. Setelah semuanya kering, kami harus memastikan semua masih berfungsi dengan baik.


Kami menemukan satu amplifier Marshal dan mixer monitor basah dan tidak bisa digunakan jika tidak dikeringkat yang benar-benar kering. Untuk amplifier kami tidak khawatir karena masih punya satu cadangan, tapi tidak demikian dengan mixer. Jika sampai tengah malam masih juga tidak bisa menyala, kami mesti mendatang mixer pengganti. Jarak terdekat untuk mendatangkan mixer ini adalah Surabaya.


Dalam keadaan seperti ini, kami jadi tersenyum sendiri jika mengingat sore tadi kami meyakinkan Kapolres bahwa semuanya beres dan pertunjukan bisa berlangsung sesuai jadwal semula. Jika tadi Kapolres mengabulkan permintaan kami, bagaimana dengan mixer monitor yang basah itu? [son andries/POSe/bersambung]



« kehalaman sebelumnya | kembali keatas

Komentar


2011-11-01 22:04:58 - pemerhatiGIGI
bersabarlah ... setiap peristiwa mengandung sejuta hikmah ... di balik kesusahan ada kemudahan Terus Semangat Guys ... Keep Rolling ... Semoga Konser Apa Kabar DCE berikutnya maupun konser-konser GIGI yang lainnya diberikan kelancaran
2011-11-01 23:30:26 - AHSAN
DENGAN UJIAN INI KITA BISA AMBIL HIKMAHNYA (INSYAALLAH ITU DO,A ANAK YATIM YANG MASIH DIBERIKAN KESELAMATAN), TERUS BERKARYA DENGAN SENI YANG TINGGI APALAGI ALBUM CINTAILAH MEREKA(LAGU UNTUK ANAK YATIM), INI MERUPAKAN LANGKAH YANG TEPAT BAGI GIGI YANG MASIH MENGINGATKAN KITA PEDULI AKAN ANAK YATIM, SUKSES BUAT GIGI & KRU, MUDAH-MUDAHAN GROUP INI AKAN MENJADI BAND PERCONTOHAN DI INDONESIA BAHKAN DI DUNIA
2011-11-01 23:48:29 - AHSAN GIGI KIT@ PAMEKASAN
OH YA, SALAM BUAT GIGI, SAYA PUNYA USUL GIMANA NGABUBURID TH.2012 JADWALNYA DI JAWA TIMUR (TERMASUK PAMEKASAN), OPTIMIS SE MADURA AKAN TUMPLEK-PLEK SEBAB SAAT INI RINDU AKAN BAND YANG BERNUANSA ISLAMI,FANSMU AHSAN NO.ID: 69000064)
2011-11-02 05:37:42 - Yudi Irawan
semua pasti ada hikmahnya, tetap solid GIGI.. PLnR
2011-11-02 10:36:21 - opex
SEMANGAT SEMANGAT SEMANGAT I LOVE U GIGI !!!
2011-11-03 02:10:01 - GiGiKita madiun
Yang sabar ya,,aku yakin dgn kejadian itu ada hikmahnya&jgn smpe putus asa semoga band gigi terus berkarya I LOPHE YOU PULL
2011-11-05 14:55:31 - rega gigikita tegal
mau tak mau terimasajalah....seperti pada lirik lagu 'GIGI' bahwa hukum alam tidak bisa dilawan. keep on spirit to : personel GIGI and CREW, GIGIKITA SE-JAGAD RAYA.
2011-11-18 18:47:32 - kholit balfas
itu kehendakMU tuhan
2011-11-19 18:11:53 - setyo pamungkas
walupun papun rintngnnya gigi tetap di hati....slm bwd dewa budjana...tidak ada gitaris sehebat dewa budjana....armand..thomas..hendy.. maju terus
2011-11-24 10:58:33 - Rana majalengka
Gigi kpn, aku bisa brfoto sama kalian,? Armand. Dewa, thomas, hendy.. Kami titipkan band gigi pd kalian, "DAMAINYA CINTA"untukmu
2012-01-08 23:29:03 - adib hanida
thanks GIGI andaikan malam itu gigi jadi konser akulah yang paling merana. ku ada jadwal yang ga ' bisa di tinggalin malam itu. hingga di tengah2 acaraku aku dapat kabar konser batal. pagi2 banget aq cari koran dan hasilnya di undur.. aku bersyukur banget punya band yang selalu mengerti akan fans nya. I LOVE GIGI.
2012-04-03 01:50:03 - xshan MauLana GiGikiTa
salam rinduku u GIGi LewT TeleVon Yg Ku GenGGam Hari InI salam P.L.N.R
2012-09-14 20:55:52 - Indra nirwana
I love you gigi

Ibukota Indonesia adalah: