header

Newsnews

kematian bukan akhir perjalanan

8 Mar 2012 2:39pm


Obituari Novan Kurniawan


“KEHIDUPAN tidak dirancang untuk menang..” Ini adalah kutipan pernyataan Dustin Hoffman di Kompas Minggu (4/3). Pernyataan pemeran film Tootsie dan Kramer Vs Kramer ini sekilas tampak logis dan sangat pesimistis. Bukankah pada akhirnya semua orang akan mati, betapa pun kaya dan sehatnya dia saat ini? Ini mirip dengan dengan ungkapan dalam bahasa Jawa yang menyatakan bahwa “urip iku mung mampir ngombe” (hidup itu hanya sekadar mampir minum), atau penggalan sajak Chairil Anwar Derai-derai Cemara yang menyebut bahwa, “Hidup hanya menunda kekalahan..”  jika kekalahan diartikan sebagai kematian.


Jadi begitulah kami melepas Novan Kurniawan di usianya yang baru 29 tahun menuju tempat peristirahatanya yang terakhir di Pemakaman Umum Kelurahan Parung Serab, Ciledug, Selasa, 6 Maret 2012. Makam ini letaknya hanya 2 km dari rumah Novan di Jl. Wiru Indah, sebuah perkampungan di pinggiran Jakarta, walaupun secara administratif termasuk dalam kebupaten Tangerang, Banten.


Novan adalah kawan kami, awak POS Entertainment, yang bertanggungjawab terhadap studio latihan dan rekaman kami. Karena itu Novan dekat dengan banyak artis, kru, sound engineer, produser, dan semua yang kerjanya berhubungan dengan studio.


Yang terakhir berhubungan dengan Novan adalah Budjana, tepatnya pada hari Sabtu 25 Februari. Saat itu Budjana sedang rekaman di studio, dan Novan yang mempersiapkan segalanya, memastikan semua peralatan berjalan sempurna. “Waktu itu Novan seperti biasa saja, ia memotret kami di dalam studio dengan HP-nya dari ruang mixer. Tidak ada tanda-tanda dia sakit, tetap banyak senyum seperti biasa,” kata Budjana.


Sekitar pukul 6 sore rekaman selesai namun Novan baru meninggalkan kantor pukul 9 malam. Tapi menurut keterangan adiknya, Novan baru kembali ke rumah hari Minggu dini hari, sekitar pukul 2 pagi. Besoknya, hari Senin siang, Yudi orang POS juga, mencoba mengontak melalui telefon karena ada jadwal kerja di studio, namun reaksi Novan terasa aneh, seperti orang ngelindur lupa waktu. Hari Senin malam Novan dilarikan ke Rumah Sakit Bakti Asih Ciledug dalam kondisi tidak sadarkan diri. Kondisinya terus memburuk hingga Selasa siang kami mendengar kabar kalau Novan koma, bukan lagi pingsan. Pagi itu Dhani, Seno, Luki berangkat ke rumah sakit untuk membesuk sekaligus mengurus segala sesuatunya.


Sempat terjadi debat mengenai penyebab sakitnya Novan, baik antara kami, maupun antara kami dengan dokter yang menangani, karena semuanya serba tidak jelas. Dokter juga mengaku tidak tahu penyebab kolapsnya Novan. Beredar spekulasi ini-itu yang intinya mempertanyakan di mana dan apa yang dilakukan Novan pada hari Sabtu antara pukul 9 malam sepulang dari kantor hingga pukul 2 dinihari hari Minggu saat dia kembali ke rumah.


Tapi daripada berdebat tentang sesuatu yang tidak jelas, kami memutuskan untuk memindahkan Novan ke rumah sakit yang lebih besar. Pilihan pertama adalah RS Fatmawati, tapi karena tidak ada tempat (mengherankan juga rumah sakit di Jakarta sudah seperti hotel yang seringkali fully booked), kami memindahkannya ke RS Mayapada Tangerang. Semula istrinya menolak karena khawatir kondisi Novan akan memburuk sewaktu dipindahkan. Tapi setelah diyakinkan bahwa pemindahan itu dilakukan dengan menggunakan ambulans yang canggih, dan rumah sakit yang baru jauh lebih baik dan lebih lengkap peralatannya, pada Jumat sore (2/3) istrinya mengizinkan.


Melihat kondisi Novan yang sangat buruk, dokter di rumah sakit Mayapada menyesalkan penanganan medis di rumah sakit sebelumnya. Segala upaya dilakukan, banyak peralatan, kabel, dan selang yang disambungkan ke tubuh Novan. Ia menempati satu dari enam tempat tidur di ruang ICU.


Senin siang (5/3) kami sekantor, bersama denga Budjana dan Armand menjenguk ke rumah sakit. Kondisi Novan tidak juga membaik. Kami bergantian masuk ke ruang ICU, 3 orang setiap kali masuk, karena baju mirip jas dokter yang wajib dikenakan di ruang ICU cuma ada 3. Istri, anak Novan yang beru berusia 3 tahun, serta saudara yang lain berkumpul di luar ruang ICU.


Dokter mengatakan kondisi Novan sudah sangat buruk, sangat kecil peluang untuk bisa sadar kembali, kalau tidak bolah dikatakan sudah tidak ada harapan lagi. Tapi dokter masih akan membicarakan kondisi Novan ini dengan koleganya, karena memang ada 3 dokter ahli yang menangani Novan. Lalu kabar buruk itu sampai sore harinya, Novan –secara medis dinyatakan sudah tidak ada harapan- mati batang otak. Jika selama ini masih bernafas dan jantungnya masih berdetak itu karena ada peralatan yang menunjangnya.


Keluarga sudah diberitahu dan dokter menyarankan Novan dibawa pulang supaya bisa lebih tenang. Kami dari POS bilang pada istri dan keluarganya akan mendukung apa pun keputusan mereka. Tetap mempertahankan Novan di rumah sakit dengan peralatan penunjang kehidupan, atau membawa pulang dan merelakan Novan pergi dengan tenang, sepenuhnya terserah kepeda keluarga.


Merelakan Novan


Senin malam itu juga kami mendengar keputusan keluarga untuk merelakan kepergian Novan dan membawa ke rumah besok pagi. Selasa (6/3) pukul 9 pagi ambulans membawa Novan ke rumah mertua yang letaknya dekat dengan rumahnya sendiri yang saat ini sedang direnovasi. “Tidak sampai 5 menit setelah dibaringkan di rumah, Novan menhembuskan nafasnya yang terakhir,” kata seorang pemuda, tetangga yang ikut mengurus pemulangan Novan. “Tangan Novan bergerak seolah ingin melipat di dada, sehingga semua orang yang berdiri di sektarnya kaget, mengira Novan sadar kembali. Tapi gerakan itu cuma sesaat, sebelum Novan pergi untuk selamanya.” Novan tidak pernah tersadar lagi dari komanya sejak masuk rumah sakit hingga dibawa pulang ke rumah, selama 9 hari.


Sekitar pukul 10 pagi hari Selasa kami mendengar berita Novan sudah meninggal dunia, dan akan dimakamkan setelah Azhar. Kami menghubungi teman-teman Novan lalu berangkat bersama-sama ke rumah duka. Dari kantor ada 3 mobil yang berangkat, termasuk Hendy di dalamnya. Budjana gabung dalam rombongan di jalan tol dekat Semanggi, sementara Arman, Budhy Haryono, Tohpati, dan Glenn Waas vokalis Super Sonic, janjian untuk bertemu di tempat parkir Giant Bintaro, sebab rumah mereka di Bintaro.


Sesampainya di rumah duka kami bergantian masuk ke ruang tamu bersama pelayat lain, karena ruanganya sempit, untuk memberi penghormatan terakhir. Setelah dikafani, jenazah dibawa ke Masjid dekat rumah untuk di salatkan, sebelum dibawa dengan mobil terbuka ke makam. Kami mengikuti rombongan mobil jenazah melalu jalan-jalan sempat yang tidak memungkinkan mobil berpapasan. Tapi diujung jalan perkampungan yang sempit itu tampak lahan pemakaman yang cukup bersih dengan masjid yang cukup megah dengan genting berwarna coklat.


Lubang makam terlatak sekitar 15 meter dari pinggir jalan utama yang membelah kompleks pemakaman menjadi dua. Mobil dan motor berhenti di tanah pemakaman yang masih kosong di pinggir jalan selebar 4 meter itu. Mungkin ini pemakaman baru. Makam Novan terletak di bawah pohon besar yang rindang, sehingga udara terasa sejuk meskipun siang itu panas terik. Kami juga melihat banyak sekali capung berwarna kuning dan hijau beterbangan di atas kepala kami para mengantar jenazah.


Usai didoakan, kami menyalami istri dan keluarga Novan lalu berpamitan. Saya sendiri menggambil gambar selama pembacaan doa dengan tablet Acer milik Yanuar. Hasilnya cukup lumayan sebagai dokumentasi dadakan.


Dari kuburan, sekitar pukul 3 sore kami balik ke kantor, tapi sebelumnya makan dulu di Sampireun, restoran besar dekat jalan masuk ke tol. Thomas yang traktir, sekaligus merayakan ulangtahunnya yang ke 45. Ulang tahun Thomas tepatnya tanggal 5 Maret, tapi karena sekarang lagi kumpul bersama (sekitar 20 orang), dan saat itu masih tanggal 6, jadi Thomas kami todong saja.


Kami makan dengan cepat sebab pukul 5 sore Gigi dijadwalkan press conf., di I-Radio sehubungan dengan acara Sabotase yang dimulai hari ini juga pukul 8 malam. Sabotase adalah program siaran I-Radio setiap hari Selasa selama satu bulan, dari pukul 8 hingga 10 malam dan di-relay ke seluruh I-Radio yang ada di Bandung, Jogja, Medan, dan Makassar. Bulan Maret ini giliran Gigi, pas dengan bulan ulang tahun Gigi. Di acara ini Armand, Budjana, Thomas, dan Hendy menjadi penyiar yang nggak cuma ngomong, tapi juga muter lagu dan main akustikan.


Awal Perjalanan


Sebagai kru, Novan dikenal sangat baik dan suka menolong. Semua orang yang pernah berhubungan dengan Novan mengatakan hal yang sama. Jika ia tidak bisa kerja karena suatu urusan, ia akan membereskan pekerjaannya sehari sebelumnya. Ia tidak mau membebani orang lain dengan tanggungjawabnya.


Novan juga memiliki minat yang besar terhadap drum. Jika studio sedang kosong dan tidak ada kabel yang harus di solder, ia akan menggambil stik dan bermain drum. Kami di luar studio tahu itu Novan. “Belum lama ini Novan menyatakan minatnya untuk membeli drum listrik saya,” kata Budjana. Novan juga sering diajak Budjana untuk jadi kru jika ada job jazz. Biasanya Aji yang jadi kru Budjana, tapi untuk jazz yang honornya kecil, Budjana merasa cukup dengan Novan.


Jadi begitulah kami melapas Novan pergi untuk selamanya dengan kenangan yang baik, seperti kami dulu melepas Puput, kru bas Thomas, yang meninggal saat mobil yang ditumpangi bersama kru Gigi yang lain menabrak bagian belakang truk tronton di jalan tol Cipularang km-86.


Kembali ke kutipan Dustin Hoffman di atas. Jika kita cermati kelanjutan dari kelimat itu, sebenarnya artis yang sekarang telah berusia 74 tahun itu tidak terlalu pesimis kok, bahkan optimis. Selengkapnya dia mengatakan; “Kehidupan tidak dirancang untuk menang. Kamu boleh kalah, tatapi harus berusaha untuk bangkit kembali. Resolusinya adalah bagaimana kita berhenti menyakiti diri sendiri dan berjuang mengusir sisi buruk diri kita.”


Dan dalam kepercayaan kita (apa pun agamanya), kematian bukanlah akhir dari perjalanan, bukan ujung kekalahan, tetapi awal dari perjalanan baru yang lebih kekal, bukan? [son andries/POSe] 


 


 




« kehalaman sebelumnya | kembali keatas

Komentar


2012-03-09 05:37:42 - Yudi Irawan
selamat jalan kang Novan.. PLnR
2012-03-09 13:41:39 - bang opik
Semoga kang Novan amal ibadahnya diterima di sisi Tuhan yang Maha Esa....amin
2012-03-09 15:18:41 - Rovicky Gigikita
selamat jalan,,,
2012-03-15 20:43:04 - pemerhatiGIGI
turut berduka yang mendalam, semoga almarhum ada dalam Rahmat dan Ampunan-Nya, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.
2012-07-13 21:29:20 - Fachrul Roji
Selamat jalan sobat.....Tuhan YME tempat yang layak utukmu
2012-07-25 07:49:07 - Zurur
Selamat jalan, selamat datang di pintu sorga.

Ibukota Indonesia adalah: